http://www.sastra-indonesia.com/
http://www.facebook.com/people/Eimond-Esya/1345467895
Soda
Tentang mereka yang terjepit bagai senja di antara siang mumi
dan malam mayat, bagai batas keabadian teror yang sesekali
memang bahagia
Itulah bunker alam tempat kau bisa mendengar raung kultikula
pertanda beberapa fosil tengah diserang uban dan gatal
Sedang sesungguhnya kau tak pernah mati meski sesekali
memang sedih
Pada perang kasih yang berulang-ulang dikumandangkan
Seterang suara sepanjang gema aku peringatkan,
Bahwa gema tak pernah ada karena cinta tak berdinding
dan berdiri di atas bumi yang sesekali, coba kau pikirkan:
memang piring.
Karena itulah jiwamu yang berjalan sejauh batas elips tertentu
sementara
yang kau perduli dan nikmati masih ciuman buntu
Tepatnya,
Betapa sempitnya ruang hampa
Keabadian menyewa energi seperti kasih sayang membayar tunai
hutang tak terbayar tubuh pada ruh yang selalu mengajarkan
hidung mencium makna wangi-wangian,
telinga mengukur tikungan, dan
leher agar tetap longgar meski yang menghapus haus,
akhirnya nanti
Bukan air.
E.E 2009
Aku
:Chairil
Kubingkai bayangan manismu
Duduk di limpa malam
menuliskan sajak keras
Tentang angin yang tak terbakar oleh api
Tapi
Tinggi kudengar sekarat angin
Ketika kalimat api kau kobarkan padanya
Walau siapa yang mampu membakar angin?
Kecuali seribu tahun musim dingin?
Akhirnya kau tuliskan dirimu sendiri
Pelosok sunyi antara Karawang dan Bekasi
Saat tak ada yang bergerak,
Yang kudengar hanya lenguh serak
ranting-ranting sajakmu yang kuinjak
2001
A Chant for Yuhilma
I.
Anginpun jatuh deras dan menyapu ladang
Lepas kerak tanah di mata bajak
Yang tak hendak pulang
Di sana, di sebuah ngarai yang tak kau tahu
akar-akar gulma karam
gemerisik ilalang liar
Adalah lirih sunyi yang mengejar-ngejar
Hingga ke ujung tanjung ranting
Dalam unggun belukar yang berayun-ayun
Rinduku sehelai daun kering
Tangkainya berguncang menahan angin
II
Akulah mercu yang menunggu, O Yuhilma
Namun kusaksikan kemudian
laut menggarami matahari
Sauh senja dan segala yang terang
Kilat air juga halus suar cintaku
Seketika padam dijangkar malam
Kemudian serupa perahu di bawah bulan muram
Aku kandas dan oleng
Di tampung ombang gelombang
Hanyut ke tengah kepundan kabut
Ketika itulah kuingat jurai rambutmu yang panjang
Dan Kita yang terhampar dijerat subuh kelam
Bersentuhan pinggang
Dalam segala bisikan yang jadi pelukan
III
Meski tak akan pernah kumengerti hal ini
Kikis penantian
Pantai-pantai yang mundur digempur ombak
Karang-karang yang pecah
Jiwa dan cinta yang akhirnya jadi semata
pulau kecil tempat singgah
Tapi kesana lah kulihat induk burung kembali
Membawa ke sarang sesuap harap
Bagi anak-anak mereka yang tak bersayap
Aku pun mencobanya O, Yuhilma
Terbang ke sudut langit
Hingga basah perasaanku dalam buih awan
Serupa kain yang tercelup air mata Tuhan
Namun betapa kau telah begitu jauh lepas
Mengikuti angin luas nan deras
Meninggalkan pesisir dingin
Dalam pemahaman-pemahamanku yang lincir
Akan kenangan
Akan segala cinta yang pernah kucicip
Dengan rasa gaib
E.E 1998-2003
Gonggong
Pernahkah kau dengar hujan katak, hujan daging,
Ikan-ikan segar dan gerimis serbuk batu?
Kini tatapan mendung lebih keji
Jantung matanya duri
Lihatlah ketika tangisnya menghambur
Sungai-sungai seketika mencuci maut
Luncuran liat malaikat belut
Ke pelosok celah menung bangkai
Yang koyak tak berbunyi
Tak usai usai
Seperti geming cemburu lonceng mati
Pada gonggong gembira kawanan anjing
Setiap terkais lagi nestapa,
Sepotong tulang mendung
Kembali menatap mereka.
E.E 2007
Nostalgik
Perlahan dan setenang bayangan
Kita tersipu dalam rayu
Lenganku melingkar ramping pinggangmu
menggoda rusuk mudamu hingga malu
Saat itu, kau dan aku seranum apel segar
Semu tebal rona, pendam manja tenaga
Merah senyummu, getar bibirku
melepas haus, cumbu tak putus-putus
Hulu laut hilir sungai menyambut rindu
Tapi muara, bukan hanya akhir segala yang sampai
Di sana segala yang bersatu, terbelah
ketika tajam lidah laut memisah arus yang kusut
Kau pun lenyap seperti cawan suci
Entah kemana ombak menyeret mu pergi
Hanya kukumu yang mencakar pasir
Menorehkan cacat parut, jejak cinta nan terusir
Sedang aku, lalu menemui hidup di ruang bidik
catur takdir yang licik
laju serang pion waktu, papan tempur hitam-putih
jebakan-jebakan pelik; ruang kosong
Betapa mungkin,
Semua yang kau tunggu justru masa lalu
Meski sebuah fianseto membawamu maju
Ingatlah,
Ketika matahari semakin terang,
rambutmu akan menjelma
Pirang
E.E 2006
Puisi-Puisi Indonesia
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Rabu, 16 September 2009
Puisi-Puisi Eimond Esya
Puisi-Puisi Yuswan Taufiq
http://www.sastra-indonesia.com/
http://www.facebook.com/mbahYuswan
“sendang ngiang”
Kukata ceruk-ceruk menggelandang!
Sesayup sengau yang telentang
Setajam buaian yang menggantang
Landai jua ruas-ruas itu lantang
. . . menunjuk wewangi ilalang
Terserak dirimu telah menguap?
Kiniku segera pulang
Pada suluk periuk telah mengusap
Hingga tanak dan tinggal menunggang
Pada jarak menua telah lama bersedekap
Hingga kiniku memamah diang
Bukan lagi legam seranjang karang
(28 April 2009)
“angin belumlah usai”
Lebam membiru kekaca berangsur buram
Tergulung pasungan selimut hangat mengeram
Tersangka dalam pelarian ombak menuju karam
Hinggakah ajal telah menemu puncak terengah
. . . pada rerimbun nyiur pantai bersulur jengah?
Lambaiku teperdaya selarik bimbang telah lama terperam
Menuntun ninabobo segenggam dian yang muram
Dan terseok di antara riuh angin malam yang gemas
. . . berebut menjambak ke laut lepas
Hingga secawan kuarung lagi kayuhan darah
Membentang seluasmu mengukir ziarah terdedah
(3 mei 2009, surabaya)
“kerontang ngiang”
Kuingat selangka yang gamang!
Sesak menggumpal itu berceceran
Telak menghimpit meradang diam
Selintas menari-ronta bersahutan
. . . genderang yang menantang jeram
Terhanyut kelakarmu pada sungut menjulang?
Penjuruku tidaklah sebuas kelewang
Hanya sejumput taut menutup lubang
Menderas pada serat kayu terjengkang
Pada selulit pualam bekam yang terjerang
Hinggalah curam sepokok runutan bertualang
. . . rajutan yang menjembatan pialang
Parutan membumi menghanguskan kuduk menyalang!
(05 mei 2009, sby)
“gelanggang benam”
Sekerangka naga ranum mengaum
Seluruh nadi mencecar pendulum
Gersang yang setiba berayun
Memojokkan dulang ke dalam rabun terhunus
Cecar yang haus menembus membungkus
Di galang rasuk menusuk hingga tertekuk, belumlah bertekuk
Kalang kabut yang membius dan menggerus jerumus
Ketuk kasak-kusuk bersambut lubuk terduduk
. . .
Cetus yang semula menghembus
Ditawan hasut berbulu kasut yang lembut
Adalah beranjak susut dan membujur hangus
Setapak yang pudar dihembus angin berkabut
Biarlah tegak seayun kelakar ini
Lambai pun takkanlah usai bercengkerama
Sebagai naung menyusur geliat jala jerami
Menumbuk gema mega di dasar bejana membara
Senada tuli lalu berburu kelabu
(25 Mei 2009, surabaya)
“ilalang ngiang”
Rajamlah biduk kambang menggeramang!
Seriang usang di padang pinang
Seremuk tulang atas layang telanjang
Menderu sekam jua jejak itu pulang
. . . pada linang bermata senjang
Selelap gasing mematut terang
Segelap diang menyusur jengkang
Terperam jua ladam melayang-layang
. . . di sela pedang bermuka nyalang
Terjerembab dirimu menebah galah?
Jangkauku hendaklah menaut patut
Di sirip kecapi yang meruah gundah
Dan terjebak di antara taut menyemut
Menggelandang jengah meneguk cercah berkilah
Setelanjang itu dulang meremang pandang
Bentang yang gamang mengunci kala merajang
(31 Mei 2009, Surabaya)
Puisi-Puisi Heri Latief
http://oase.kompas.com/
DEJA VU
rasa manis pahitnya
pengalaman
bercumbu dalam konflik
kepentingan
seperti senyum deja vu
merayumu?
Amsterdam, 10/05/2009
Refleksi Sejarahmu
puluhan tahun yang lalu
di radio pemimpin besar berpidato
tolak bantuan asing yang menjajah!
begitu kenyataan jaman dulu
sipatnya tegas dan tekadnya keras
anti nekolim dan makelarnya
di masa itu rakyat memuja kemandirian
gotongroyong membangun kekuatan
mana lagi sekarang sisa kesadaran?
keberhasilan minjam hutang dibanggakan
upah buruh dan jaminan sosial diminimalkan
yang kaya makin genit memamerkan harta
yang miskin boleh sirik tapi jangan ngamuk?
oya?!
puluhan tahun tertindas sepatu lars
sepanjang jalan kenangan berdarah
siapa mampu nolak refleksi sejarah?
Amsterdam, 06/05/2009
Sajak Kowloon Park
baca sajak di kowloon park
syair buruh migran teriak
ayo bela persamaan hak
merantau jauh derita kaum buruh
primadona devisa indonesia
di kampungnya diperas calo ganas
negara bisanya nikmati uang pajak
buruh migran tetap termajinalkan
dicari pemimpin rakyat yang peduli
berani bela bangsanya dan mandiri
demi keadilan buat buruh migran
solidaritas atas nama kemanusiaan
Amsterdam, 23 Mei 2009
ps: sajak ini buat buruh migran indonesia di seluruh dunia. tetap smangat!
Sajak Buat Diunk
jaman taon jebot tujuhpuluhan
dalam mimpinya tinejer ngejeger
musiknya nge-rock en roll beybeh!
gayanya ngehippie banget deh
hidup ini patut dinikmati
dalam tanda kutip emosi
siapa dia generasi bunga?
terbaca dari sajak dan emosinya
nyanyian rindunya anak jalanan
perdamaian dan keadilan buat semuanya
dalam syair puisi yang berlawan?
Amasterdam, 03/05/2005
Puisi Dua
dualisme dalam demokrasimu
musuh kemarin teman sejalan
kemana kawan hilang muka?
kapan janji pemilu dibuktikan
lupa memori pahitnya kenyataan?
sampah kampanye berserakan
maling curang tikus berpesta
tanya setan nyari jawaban?
bangsa miskin tanahnya kaya
dikuras demi pensiun pemodal
bangsa miskin koruptornya kayorayo bah!
tragedi kemanusiaan tanpa batasan
anak-anak lapar keliaran di jalanan
terpaku kita pada facebookmu?
Amsterdam, 03/05/2009
Di balik Wajah Politik
Ketika hujan adalah banjir
Uang sebagai alat berkuasa
Manusia mau jadi budaknya
Materi dibalut madunya duka
Katalepsi tesis orang termajinalkan
Tak ada yang tau kemana angin merayu
Membebek swara dari atas
Terjebak keajaiban tukang sulap
Merindu sajak yang berlawan
Dibakar dendam sejarah berpolitik
Pertarungan siasat dan sejuta intrik
Mengubah janji wajah munafik
Di batas senja merah menyala
Sisa kopi dan sebaris puisi
Bisikan dari akar rumput liar
Kataklisme menebar bau persaingan
Berdoalah agar tak terjadi frustasi
Siapa mampu bermimpi revolusi?
Amsterdam, 11/04/2009
Libas Phobias!
golput itu katanya partaiphobia
gayanya suka banget berpolitik
kayak cinta campur benci politik
bukan demokrasi tanpa diawasi
mestinya ide bertarung di gelanggang
supaya perubahan terjadi lagi
jangan apatis mandang masa depan
belajar bersaing di jalan yang benar
berani memilih suatu keyakinan
masa depan itu harus diperjuangkan
proses demokrasi tetap berjalan
walau pun berbeda kita sodara
sebangsa sebahasa setanah air
dalam semangat syair
: yang berlawan!
Amsterdam, 6 april 2009
Puisi di antara Dua Benua
di sini
tanah seberang lautan ide
demi langit merah menyala, api
membakar pahitnya duka
kami punya sejarah terluka
luka dibawanya ke muara, cinta
tanah air mata air kehidupan
mengembara di dunia maya, terbang
bersama debu dan mimpi-mimpinya
nyanyian jejak puisinya?
meminimalis ilusinya
tanah air mata air cintanya!
Amsterdam, 2005
BUNGA
selamat datang di dunia maya
cintamu habis dirayu waktu
demi musiknya dewi malam
lagu kenangan anak jalanan
sajak dimimpi pemuja cinta
wanginya kopi koalisi air api
bisikan daun dibelai rindu
musim semi bunga bernapsu
Amsterdam, 02/04/2009
Jangan Sampai Otakmu Tercuci
ketika otakmu asik dicuci
cintamu hanya pada ayat suci
demi sorga bidadari menanti
lupa indonesia tanah airmu?
biarkan segala warna dan ideologi
jangan kau paksa munafik lagi
budaya kita adalah nusantara
dari sabang sampai merauke
kemana tujuan kemerdekaan?
itulah yang mestinya dikerjakan
bukan cuma ngitung pahala dan dosa
persatuan bangsa penting adanya
ayo jangan mau tercuci otakmu
belajar bicara dari hati nurani
siapa yang punya urat malu
pasti tau arti cuci otakmu
Amsterdam, 27/03/2009
Jakarta Kita
kampungnya urbanisasi
tanah air semua perantau
harapan pendatang berkilauan
terjebak cinta macet di jalanan
terasing ide kemanusiaan
dirayu jilatan anak setan
jakarta itu biang kerok
pabriknya kasak kusuk busuk
langganan banjir isu
jual pahala beli dosa
bikin orang napsu berkuasa
jakarta panggungnya sandiwara
rakyat tertipu mimpinya penguasa
Amsterdam, 23/03/2009
Puisi-Puisi Liza Wahyuninto
http://celaledinwahyu.blogspot.com/
Balada Cinta
Karena kita tak tahu esok kan tetasp ada mentari
Pada setiap waktu berilah arti
Tidak ada kepastian dalam mimpi
Tapi selalu ada harap dalam kecewa yang sepi
Cinta adalah doa dan pengaharapan yang berujung kecewa
berilah makna pada setiap kata
Kelak ia kan menjelma sumpah
Mawar tak pernah terlahir tanpa duri
Setiap ramai slalu kan berujung sepi
Keindahan teragung adalah dapat berbagi
Dan sikpa paling dicintai adalah dapat mengabdi
Malang, 27-28 April 2008
Kecantikan Itu
Alangkah eloknya bila tak hanya paras yang cantik
Tapi jua bijak dalam kata
Anggun dalam langkah
Baik dalam pekerti
Bukan kecantikan yang menawan sungguh
Serupa Rafflesia yang indah
Tak nak didekati
Hanya dipandangi
Tengoklah pula pada mawar
Berapa hidung yang mengorbankan diri
Meski duri jadi lawan sejati
Akan tiba saatnya
Bukan mata,
Bukan telinga
Bukan pula lidah
Yang memilih
Tapi hati
Kecantikan, keanggunan, keindahan
Semuanya
Ada di sini
Pada nurani
Malang, 2009
Puisi-Puisi Samsudin Adlawi
http://www.sastra-indonesia.com/
http://id-id.facebook.com/people/Samsudin-Adlawi/1607628205
Pintu
ketuk pintu
hati ini berlumut
dosa kami jumud
buka pintu
hati ini rindu
cahaya jatuh
buka pintu
setetes air
ia butuh
di muka yang sama
jatuh dalam irama
seperti hunjam hujan
mata batu berlubang
the sunrise of java, 26062009
Bunga Taman
matahari
musim hujan
silih ganti kau undang
cumbui bunga di taman
dalam belainya kuncup bunga rekah
nyenyak di kelopaknya kami tak
lingkar merah membingkai bibirnya
nyaman di mayangsarinya kami tak
tanamlah bunga
yang rekahnya rela
tirah kami dilindung
dari sengat kumbang
the sunrise of java, 25062009
Menjaring Embun
di mulut malam bejana kami menganga
menjaring guguran embun diayak angin
bejana muntah di kaki anak matahari
secanting kami gunakan menyuci hati
secanting lagi untuk merendam mantra
selebihnya kami taruh dalam kendi yang
mulutnya memanggil para musafir yang
hilang arah melayarkan haus dalam jiwa
the sunrise of java, 22062009
Memilih Arah
akhirnya sampai juga
di pembuangan lelah
badan rebah mata melangkah
menjumput kelebat tandatanda
arah menuju bertukang punggung
gantung diri di tiang persimpangan
ke kanan menyuci hati
ke kiri mencincang hati
air mata seguci tumpah
menghapus arah kiri
the sunrise of java, 16062009
Menjadi Laut
hidup ini lautan
kita musti bersilancar
memecah ombak
menerjang gelombang
mencumbui karang
berdansa bersama ikan
di atas kilau pasir
hidup ini lautan
daging amis
keringat asin
kita niscaya
the sunrise of java, 12062009
Puisi-Puisi Maghie Oktavia*
http://www.kompas.com/
Tiga Keping Keindahan
Menelusuri terowong hati
Kusapa kau,dia dan dirinya
Kau
Kelebat meteor yang lintasi jiwa
Menggurat ukiran palung hati terdalam
Terdiam anggun
Lalu sontak menyeruak
Bangkitkan ruh semara yang terlelap
Dia
Kerlip susastra yang taburi malamku
Kadang hilang
Tersaput mendung yang betah dengan kelam
Lalu kembali bercengkerama dalam senyap
Temani jelaga sunyiku
Dirinya
Baskara yang bujuk pagiku untuk tersenyum
Padanya hujan asinpun kerontang
Ia satukan sari pati kasih tersisa
Lalu beranjak pongah
Tapakkan fatamorgana
Aku
Masihlah milikku
yang tak ingin tinggalkan basat pada sesak
Karena kau,dia dan dirinya
Siluet terindah di jeda masa
Mata Hati yang Terlambat Terjaga
Kupungut siluet indah yang teronggok di sudut meja
Debu bingkai yang berjatuhan retaskan rangkaian frase
yang terpekur pada kenang
tahukah kau
awanku telah lelah dendangkan elegi pada kelam
dan selembar kasa kusam masih mendekap keping hati yang basah memerah
Menahun
Palawa coba gerogoti hibatku yang berkelana di atas fatamorgana
Jiwaku pun labil ikuti arahmu yang entah
Ku hanya temui senyap
Menjauhlah!
Kuingin tegakkan baluarti pada jalanku menuju karam
dapat kudengar dewi amor memaki mata hatiku yang terlambat terjaga
di atas asaku yang tersudut pada diam
Ahhhh…
Letih ku memeluk doktrin kesetiaan!
Terbelenggu Sepi
Kucoba langkahkan kakiku yang lesu diatas petak-petak ubin yang berdebu.
Syaraf di tubuh rumah ini terasa membeku bersama hatiku yang layu.
Aku tergugu…mencoba ingkari setiap tarikan nafasku yang pilu.
Kutermenung
di antara jendela yang sunyi
Menjemput senja tak bertepi
Tak dapat kunikmati aurora
Merah,hijau,ungu…
Entah,semua bergradasi jadi kelabu
“Mendekat sini,nak. Biarkan jiwa Ibu mendekapmu erat malam ini.
Kau adalah mestika terindah dalam hidupku. Tapi…”
Masih terngiang lirihmu yang tercekat
Di balik semburat wajahmu yang memucat
“Ruhku begitu merinduNya, nak”
“Apa maksudmu, bu? Kumohon jangan tinggalkan gamang di hatiku”
Namun kau hanya tersenyum syahdu lalu tertidur damai di atas peraduanmu
Jawabmu
Kau kirim lewat fajar yang layuhkan jantungku
Pada nisan yang tak bergeming oleh luruh air mataku
Takkan pernah kutemui lagi pelangi itu
Bu,tak ada yang tersisa untukku
Cakrawala kini terbungkus pakaian yang sama
Hitam…
Virga
Kuhirup setiap kepahitan di sela bayu yang resah
Tak sanggup penjarakan bulir bening pada kelopakku yang gundah
Kau pun tahu
Semara ini bukanlah virga pada mendungmu
pun sekedar roman picisan yang singgah pada kisahku
dan detik ini
Dua puluh empat jam tersisa dalam genggaman
Sebelum baku tubuhmu yang tersusun sempurna
tapaki altar suci bersamanya
Tinggalkan kalbuku yang berperang membekam gamang
andai bisa kuadili Tuhan kita
yang semestinya sama
Sang Penari
akulah sang penari
kesuma layu yang terkubur di tubir nista
Jarijari terus menyentuh lekuk tubuh yang gelisah
Hentakan irama rasuki gelora yang membuncah
Terlupakan sudah cerita tentang pekat
yang terselip di antara buku-buku kodrat
Mara menyeringai bahagia
Nikmati tiap gairah yang terteteskan
di antara peluh yang melekat
Kali ini ia berteriak
“takkan kubiarkan birahi pada koma!”
Setia yang Retak
Malam kembali sibukkan kelopak mata yang coba memeluk tidur
Membawa sebongkah hati yang menganga tertoreh luka
Kutuang darahnya dalam bejana terindah
lalu kuteguk sepuasnya hingga ku jengah
tak pedulikan lagi tafsir tentang tetesan embun dan air mata
karena ternyata keduanya saling mencinta
Luka yang Sempurna
Siluet di hadapan hanya terdiam
Saat mulai kurobek dada dan jelajahinya
Kemana hati?
Karena yang kutemui
hanya bercakbercak darah yang telah mengerak
Berserak…
Kucari dan kucari hingga layuh
Tapi yang ada cuma rongga kosong tak bernyawa
Jangan jangan di bawa ibuku ke kuburan?
atau digadaikan ayahku di pelelangan?
mungkinkah ditenggelamkan adikku di jeladri terdalam?
Ahhh…
Lebih baik tapakkan jiwa pada bumi
atau sembunyikan saja raga di rahimnya!
———-
*) Lahir di kota Pangkalpinang Provinsi Bangka Belitung pada 3 Oktober 1976. Lulusan Sastra Inggris UNPAD Bandung ini kini bekerja sebagai Voice Over talent di berbagai PH di Jakarta
Wadah persahabatan:E mail / FB / YM id : m4ghie@yahoo.co.id
Komunitas sastra :kemudian.com & apresiasi sastra
Puisi-Puisi Esha Tegar Putra
http://www.korantempo.com/
UBUR-UBUR MABUK
kukira kau ubur-ubur mabuk di ujung teluk
berpura ngamuk dan membenturkan kulit lembut
pada mata kail si pemancing yang tangannya buntung
sebelah–meski sebenarnya kau cuma berusaha
mengajarkan, bahwa persuaan antara kulit lembut dan
runcing mata kail adalah permainan saling menggelitik
kau ubur-ubur mabuk yang salah sangka
di lapisan dalam kulit lembutmu tersimpan daging sintal
idaman para penguasa laut. kau ubur-ubur suntuk yang
kehilangan akal bagaimana cara menumbuhkan sepasang
sayap burung di punggung lunakmu
agar kau bisa terbang, lepas dan terbebas
dari aroma garam dan ngilu percik pecahan karang
dari sebuah jarak, entah itu jauh atau dekat, dengan lendir
di tubuh dan mata yang menetaskan pecahan garam
kau memperhatikannya dengan penuh maksud
si pemancing yang tangganya buntung sebelah itu
telah bermalam lamanya menunggu agar kulitmu
menggelipat pada mata kailnya. di gelembung riak teluk
di isyarat laut yang kesekian kali memberi pertanda
sambil merapal beberapa doa, dengan geletar harap
yang begitu besar. ia terus merapal, agar agar kaki
dan punggung lembutmu itu menggelipat
dan menyangkut di mata kailnya
Gunuangpangilun, 2009
PENYAIR BUTA
kudengar kau bersenandung di tepi perigi, tapi tak semerdu rumi
yang kerap mengukur dalamnya sepi. kau, begitu lembutnya
mengusap kelopak mawar yang tangkainya bekas terbakar, sebab
kau inginkan penawar bagi penyakit sukar tidurmu. duh, rengkuhmu
pada sebatang padi seolah inginkan juga dalamnya sepi
tapi matamu berpura buta, di dalamnya rahang serigala bertaring
panjang lebar terbuka
dari asal apakah kau mendapat makna duri sedangkan kau tak pernah
tertusuk sekali? sebab matamu berpura buta, di dalamnya
serigala mulai menjulurkan lidah dan mengeluarkan getah lendir
kini kulihat kau menari (seolah rumi) di bulan terang, meminta
datang hujan, bagi bulir-bulir padi yang tak unjung meninggi
sungguh termat sepi jantungmu, seperti betung selesai ditebang
ruasnya berlubang tapi tak ada setitik air yang mengisi
ucapmu selalu duri dan sesekali menyesalkan kobaran api
di sebalik bukit yang berusaha menyentuh langit. aku kira kau
tak begitu paham makna sepi ataupun tusukan duri. sebab matamu
berpura buta, dan kini serigala leluasa menancapkan taringnya
Kandangpadati, 2009
*) Sedang belajar di Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Kumpulan puisinya, Pinangan Orang Ladang (Frame Publishing, 2009).